Pesona Keindahan Gunung Papandayan Zaman Now

Rabu, September 12, 2018

2622 mdpl

“Bukanlah Gunung yang kita taklukan, tapi diri kita sendiri." -Edmund Hillary-

Kalimat di atas merupakan sebuah quote yang aku temukan di jalur pendakian menuju puncak Papandayan.

“Papandayan yang sekarang udah nggak kayak dulu” ujar seseorang yang pernah naik Papandayan beberapa tahun sebelumnya.

Ada apa dengan Papandayan yang sekarang?

Tenang. Aku akan menceritakannya dalam tulisan ini. Silakan dibaca terus sampai akhir tulisan. Aku yang baru pertama kali naik gunung, tidak akan menceritakan pos-pos yang ada, karena aku masih belum paham tentang pos-pos itu. Yang aku paham, aku menikmati alam Indonesia dengan rasa takjub.

Hari pertama dibulan September 2018, merupakan kali pertama aku menjejakkan kakiku di jalur pendakian Papandayan. Gunung yang sudah lama sekali masuk dalam wishlist perjalananku di bumi sejak tahun 2014. Setiap kali mau kesana selalu saja gagal yang akhirnya berbelok ke destinasi yang lain. Bahkan kemarin sebelum berangkat ada hal yang hampir saja bikin gagal berangkat lagi. Sampai akhirnya aku pasrah dan membatin “yasudahlah nggak apa-apa kalo nggak jadi berangkat. Tahun depan InsyaAllah bisa kesana”.

Seminggu sebelum berangkat ada hal yang membuat aku bimbang untuk tetap melanjutkan perjalanan. Hal itu  disebabkan oleh Dini yang memutuskan untuk tidak bisa jadi ikut karena ada hal mendesak yang tidak bisa ditinggal dan menyangkut masa depannya. Dan Een yang juga akhirnya membatalkan untuk ikut karena jadwal libur dia di tempat kerja gagal diacc oleh atasan. Hanya dua wanita itu dan aku yang tadinya akan ikut dalam rombongan pendakian gunung Papandayan, selebihnya adalah para lelaki.

Aku mulai bimbang dan bingung. Kalau dalam perjalanan hanya aku sendiri wanitanya mana aku berani. Kebimbangan aku pun ditambah dengan revisian skripsi yang harus aku serahkan pada hari selasa, 4 September 2018 dan itu belum selesai aku kerjakan.
Dalam hati, ingin rasanya aku mengerjakan revisian skripsi di gunung andaikan terdapat
listrik di sana. Tapi sayang, di gunung kamu tidak akan menemukan listrik.

Saat Een dan Dini memutuskan untuk tidak jadi ikut, aku sempat kesal dan sebenarnya ada rasa marah, sampai rasanya aku malas untuk membalas chat mereka. Karena mereka membatalkannya sangat dadakan sekali. Mungkin kalau sampai hari-H aku tidak menemukan pengganti teman wanita, aku akan ikut membatalkannya juga. Tapi, syukur H-4 keberangkatan aku mendapat teman wanita untuk ikut mendaki gunung Papandayan.

Masalah teman wanita sudah terselesaikan, timbul masalah baru yang hampir saja membatalkan pendakian. Saat sudah masuk hari H dipagi hari, salah satu teman mengingatkan tentang cuaca di sana. Saat mengecek perkiraan cuaca, cuaca hari itu dan esok saat mendaki diperkirakan akan hujan. Itu artinya jika hujan, tak ada pemandangan bagus yang dapat dinikmati, karena pasti akan tertutup oleh kabut tebal. Setelah berunding digrup dan cek ulang BMKG, lagi-lagi ucap syukur karena perkiraan cuaca saat mendaki nanti cerah. Akhirnya perjalanan tetap dilanjutkan.

Oke.. saatnya kita masuk dalam cerita perjalanan.

Perjalanan mendaki Gunung Papandayan ini beranggotakan 6 orang. 4 orang berangkat dari Jakarta, yaitu Irhas, Endo, Ova dan aku dengan menaiki bis. Dan 2 orang lagi, yaitu Asep dan Dian (yang seringkali dianggap wanita karena nama panggilannya, padahal aslinya lelaki tulen) berangkat dari Cianjur dengan menaiki sepeda motor.

Dari kiri ke kanan (Irhas, Endo, Ova, aku, Asep, dan Dian)
Sekitar pukul 21:30 bis tujuan Garut yang kami naiki jalan dari terminal Kp.Rambutan. Sebenarnya kami sudah membuat jadwal kumpul di terminal Kp.Rambutan pukul 20:00, tapi orang Indonesia lagi-lagi terkenal dengan jam karetnya. Akhirnya hanya Irhas lah yang datang tepat waktu. Sedangkan aku, Ova dan Endo datang hampir pukul 9. Dalam hati Irhas mungkin dia sudah unmood nunggu kami. Jika saja Irhas egois mungkin dia sudah akan meninggalkan kami, karena saat dia menunggu kami sudah ada beberapa bis yang lewat. Maafkan ya. Jangan ditiru jam karet seperti kami manteman. Kasihan yang nungguin. Aku datang telat karena traffic di Jakarta yang cukup macet walau hari sudah gelap dan jalan dari Duren Sawit juga sudah mepet waktu.

Oiya Gunung Papandayan ini merupakan Gunung yang terletak di daerah Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tepatnya berada di Kecamatan Cisurupan dan memiliki ketinggian sekitar 2622 mdpl. Suhu terendah di Papandayan mencapai 10ºC. Brrrr.

Kami berempat yang berangkat dari Jakarta, tiba di terminal Guntur sekitar pukul 2:30 pagi. Menurut aku, udara pagi itu di Garut cukup dingin. Sementara Dian dan Asep sudah tiba di gerbang Papandayan lebih awal, sekitar pukul 20:00, karena mereka berangkat dari Cianjur sekitar pukul 16:00. Mereka sengaja berangkat lebih awal, karena untuk menghindari kabut saat masih dalam perjalanan.

Sesampainya di terminal Guntur, kami tidak langsung melanjutkan perjalanan menuju Papandayan. Masih harus menunggu hingga sekitar pukul 06:00 pagi sampai ada angkutan umum yang menuju Papandayan.

Selama menunggu di terminal, kami mengisi perut yang sudah lapar. Aku, Ova dan Endo makan semangkuk bubur ayam dan Irhas menikmati nasi rames. Bubur ayam yang aku makan harganya cukup terjangkau, hanya Rp.6000. Seusai makan, karena hari masih gelap dan belum memasuki waktu subuh, berhubung logistik yang kami bawa masih amat sangat kurang, akhirnya aku, Ova dan Irhas menyempatkan untuk berbelanja ke pasar yang ada tidak jauh dari terminal Guntur.

Kami membeli beberapa bahan makanan, diantaranya: beras seliter, tahu cokelat, tahu putih, tauge, bawang goreng, sosis, cireng, otak-otak, telur (telurnya dimasukan ke dalam botol), kulit lumpia, bumbu penyedap, lada bubuk, air mineral 1,5 liter, saus dan minuman sachet.

Bodohnya kami, bumbu yang kami beli hanya lada dan bumbu penyedap. Kami lupa untuk membeli bumbu inti, yaitu garam. Coba kalian bayangkan, masakan yang aku masak nantinya hanya akan berasa msg. hiks. Aku juga lupa untuk mengingatkan beli terigu. Seharusnya aku juga beli terigu, karena niat awal aku mau masak tahu isi, makanya beli tahu cokelat dan tauge. Bahan makanan yang kami beli itu untuk mengisi 6 perut, yang kalau di gunung udara dingin makan gorengan pasti maknyus, walaupun tetap saja mie takkan terganti kenikmatannya.

Sekitar pukul 05:30 matahari mulai menampakkan sinarnya. Kami pun bertemu dengan beberapa pendaki lainnya. Namun sayangnya pendaki yang kami temui kebanyakan ingin menanjak Gunung Cikuray dan Gunung Guntur. Jarang sekali yang mau menuju puncak Papandayan.

Setelah sekian lama menunggu, kumpulan calon pendaki Papandayan yang lainnya pun kami temukan. Kami bertemu dua rombongan pendaki Papandayan. Satu rombongan berjumlah 7 orang dan satu lagi hanya 2 orang sebagai sepasang suami dan istri.

Aku mengira bahwa dari terminal Guntur tinggal sebentar lagi untuk sampai Papandayan. Ehh ternyata dari terminal kita masih harus menaiki dua kali angkutan umum lagi dengan jarak tempuh yang lumayan. Perjalanan menuju Papandayan saat itu, dipandu oleh Irhas yang sudah pernah kesana. Kebetulan saat itu yang sudah berpengalaman naik gunung hanya Irhas dan Asep. Sementara aku dan yang lainnya benar-benar pendaki pemula dengan sedikit sekali pengetahuan tentang mendaki.

Setelah menaiki angkutan dari terminal Guntur, untuk menuju gerbang Papandayan, kami masih harus melanjutkan menaiki mobil losbak dengan jalanan menanjak lika liku. Suasana gunung saat menaiki losbak mulai terasa. Pemandangan sekitar pun sangat indah menawan dipandang mata dan kabut mulai terlihat berkumpul, sehingga membuat jarak pandang semakin berkurang.

Oh yaa.. untuk rincian harga angkutan dari Jakarta sampai simaksi akan aku kasih tahu nanti yaa. Sekarang nikmati dulu cerita perjalanannya :p

Jam 08:00 kami tiba di gerbang masuk pembelian tiket menuju Gunung Papandayan.
Di sana kami rombongan Jakarta bertemu dengan Dian dan Asep yang sudah sejak semalam menunggu kedatangan aku, Ova, Endo dan Irhas. Mungkin Dian dan Asep yang sudah menunggu sejak semalam, sudah kesal karena estimasi awal kami yang dari Jakarta akan tiba di Papandayan sekitar pukul 06:00, ternyata melesat sampai pukul 08:00. Peace yak wkwk. Sebelumnya aku tidak mengenal Asep. Dian pun hanya mengenal aku. Dan dalam perjalanan itu, kami yang awalnya tidak saling mengenal, sekarang kami sudah saling mengenal satu sama lain.

Memang benar, dalam perjalanan itu tidak hanya pengalaman baru yang akan kita dapatkan, tapi juga teman baru.
Karena yang sudah berpengalaman kesana adalah Asep dan Irhas, merekalah yang akhirnya mengurusi simaksi dan lapor ke petugas bahwa kami akan mendaki Gunung Papandayan.
Ingat yaa sebelum kita naik gunung, kita harus lapor dulu ke petugas agar nama kita terdaftar, bahwa di atas gunung ada kita yang sedang melakukan pendakian.
Setelah segala sesuatunya selesai diurusi, kami pun melanjutkan perjalanan.
Pendakian yang sudah aku nanti sejak semalam, dimulai.

Wohooo I’m so excited karena yeay wishlist mendaki Papandayan terwujud!
Do’a mendaki Papandayan yang tadinya masih Allah jawab nanti, hari ini 01 September 2018 Allah kabulkan setelah 4 tahun menanti.
Memang, saat kita mempunyai suatu keinginan jangan lelah untuk meminta, karena Allah akan mengabulkan disaat yang tepat atau mengganti dengan yang lebih baik.

Awal mendaki aku masih dalam kobaran semangat hingga rasanya carrier yang AllahuAkbar beratnya masih terasa ringan.
Berangkat dari rumah, carrier tidak terlalu berat, bahkan masih lumayan lowong dalamnya. Aku membawa carrier ukuran 40L. karena, carrier aku yang masih dapat menampung beberapa barang, setelah membeli 4 botol air mineral 1,5 liter, keempat botol tersebut dimasukkan ke dalam carrier aku, sehingga membuat carrier bertambah amat sangat berat.
4 botol air mineral tersebut dimasukkan ke dalam carrierku, karena carrier yang dibawa Endo sudah dipadati dengan bahan makanan dan carrier Irhas sudah dipenuhi dengan tenda hingga tidak menyisakan ruang kosong sedikit pun. Sementara Ova hanya membawa backpack yang sudah padat dengan barang bawaannya. Terpakasa mau tidak mau, carrierku lah yang menjadi korbannya huhu.

Tadinya aku kira, feel mendaki di Papandayan tidak akan terasa. Karena berita yang beredar Papandayan itu cocok untuk pendaki pemula dan tracknya masih terbilang landai. Diawal jalur pendakian pun jalanannya sudah diaspal, sehingga tidak terasa sama sekali suasana gunungnya. Hanya udaranya saja yang dingin.

Menurut Irhas dan Asep yang sudah pernah kesana beberapa tahun lalu, Papandayan yang sekarang tidak seperti beberapa tahun silam. Papandayan yang sekarang, kita sudah dimanjakan dengan deretan warung dan toilet di atas sana. Tidak hanya menjadi tempat untuk mendaki gunung, tapi sudah berubah menjadi tempat wisata, dengan dibangunnya pemandian air panas. Semua itu berubah karena Papandayan sudah dikelola oleh swasta, sehingga berdampak pada mahalnya tiket masuk dan juga ngecamp.

Jalan yang diaspal hanya pada bagian bawah saja. Semakin ke atas, feel mendaki mulai aku rasakan. Baru seujung pendakian, belum ada 15 menit wajahku yang awalnya ceria dan semangat, berubah murung. Aku menyerah untuk lanjut mendaki dengan beban carrier yang beratnya sudah nggak bisa lagi aku pikul.

Dalam mendaki, team memang harus solid. Yang aku pelajari nggak ada baper-baperan dalam mendaki gunung. Semua harus kerjasama. Nggak boleh egois.
Karena kita harus kerjasama, Dian dan Asep yang berangkat dari Cianjur, mereka hanya membawa satu carrier yang dibawa oleh Dian. Asep akhirnya menjadi korban pertama yang membantu bawa carrierku. Masih dalam jalur pendakian, aku nggak tega juga liat Asep jadi korban beratnya carrier aku, akhirnya aku meminta kembali carriernya setelah pundak aku beristirahat beberapa saat dari beratnya carrier. Ternyata aku sungguh lemah, baru berjalan belum ada 10 langkah, aku give up kembali hahaha dan diputuskan Asep yang akan tetap membawa. Namun, tak berapa lama Dian dan Asep tukeran carrier. Akhirnya Dian lah yang membawa carrier aku hingga tempat ngecamp. Aku hanya membawa tas kecil berisi dompet, hp, charger, powerbank dan buku kecil. muehehe.

Track jalur mendaki Papandayan cukup membuat lelah. Hingga rasanya aku ingin berteriak “HAH TRACK PENDAKIAN MODEL GINI DIBILANG BUAT PEMULA?”.

Jalur Pendakian Papandayan
Ya mungkin track pendakian sesungguhnya lebih ekstrim dari ini. Next time ajak aku untuk mendaki gunung yang lebih tinggi dong hahaha

Karena aku, Ova, Dian dan Endo baru pertama kali merasakan mendaki gunung, langkah kami tidak secepat dan selihai Irhas dan Asep. Irhas dan Asep sudah berjalan jauh di depan kami, sedangkan aku dan tiga orang lainnya masih saja menepi untuk istirahat.

Hal lain yang membuat Papandayan berubah adalah Papandayan yang sekarang jalur pendakiannya sudah dilalui oleh motor trail. Sungguh ada motor yang mondar mandir di jalur pendakian, membuat aku kesal. Jalur pendakian yang dipenuhi dengan pasir dan batu serta hanya sebuah jalan setapak membuat debu semakin berterbangan saat motor lewat.
Gunung yang dikelola malah jadi aneh, hilang rasa gunungnya. Namun aku tetap menikmati keindahan alamnya. Keindahan alamnya tetap sama. Membuat aku terus berdecak kagum dengan keindahan alam yang telah Allah ciptakan.

Dipertengahan pendakian, bau belerang mulai terasa menusuk hidung. Baunya bikin sesak, tapi tetap harus dilalui.

Setelah banyak istirahat, kami tiba di tempat camp sekitar pukul 11 siang.
11 siang saat itu kabut sudah lumayan cukup tebal dan langit terlihat mulai mendung. Alhamdulillah gerimis yang jatuh, hanya sebentar dan hanya saat itu saja. Gerimis jatuh setelah tak berapa lama tenda berdiri kokoh.
Saat proses pemasangan tenda, hammock Dian sudah terpasang aduhay dan menggoda untuk berayun-ayun di atasnya. Aku yang sedang kelelahan pun akhirnya nggak bisa menghindari godaan itu, alhasil tanpa sengaja aku tidur dengan santainya tanpa memberikan bantuan sedikit pun kepada teman-teman yang sedang bersusah payah mendirikan tenda. Wkwk maafkan aku ya kawan. Sungguh itu diluar rencana. Terima kasih, kalian terlalu baik untuk tidak membangunkan hehehe

Ayo Ova kita masak
Masak-masak bahan makanan sudah dimulai siang itu setelah tenda siap untuk dihuni.
Martabak menjadi pilihan pertama yang akan aku olah. Aku akan membuat martabak dengan isian tahu putih yang telah dihancurkan. Cukup praktis, tapi kalian ingat kan bahwa kami lupa membeli bumbu utama, yaitu garam? Bagaimana aku mengolah makanan yang hanya berbumbu penyedap dan lada?

Yasudah.. mau tak mau, tahu yang sudah ku hancurkan, aku beri bumbu penyedap secukupnya dan dicampur telur yang sudah dikocok. Aku ragu, apakah martabak tahu ini akan ada rasanya?

Daaannn… jeng jeng..

“Enak Win, TAHUNYA RASA TAHU” ucap Dian saat mencicipi martabak tahu yang sudah masak.

Kalian tahu maksud dari “Tahunya Rasa Tahu?” itu artinya martabak itu nggak ada rasa asinnya sama sekali. Meski begitu, Asep, Endo dan Irhas tetap menikmati martabak tahu tanpa rasa itu wkakak. Mau gimana lagi? Itu sudah menjadi kesalahan team yang semuanya lupa dengan garam. Jadi, selamat menikmati masakan-masakan tanpa garam. Semua makanan jadi terasa hambar, tapi kebersamaan kita lah yang menjadikan masakan itu nikmat. ahay.

Selama di gunung, kalian tidak akan mendengar suara adzan. Jadi, jangan sampai lalai untuk ingat waktu-waktu shalat. Waktu benar-benar nggak terasa perubahannya saat di gunung. Apalagi saat udara dingin mulai menusuk tulang, rasa malas untuk beranjak dari dalam tenda sungguh luar biasa. Bagi kalian yang muslim, jangan lupa untuk selalu jaga shalatnya yaa walaupun keadaan sedingin apapun. Silakan gunakan kompas untuk tahu arah kiblat.

Dulu saat kecil, aku anak yang kuat sekali dengan dingin. Tapi, entah kenapa sekarang ini aku mulai lemah dengan udara dingin. Baru dingin sedikit sudah menggigil, ditambah aku punya alergi dingin. Hal itu membuat aku memakai berlapis-lapis pakaian. Mulai dari base layer, kaos, gamis, sweater, jaket. Sudah memakai pakaian setebal itu, masih saja aku merasa dingin, dan gatal mulai terasa. Syukur tak separah biasanya. Karena, masih saja terasa menusuk sekali dinginnya. Saking dinginnya, api unggun yang sudah dibuat Asep masih saja tidak bisa menghangatkan, aku pun membongkar carrierku dan kuputuskan untuk memakai atasan jas hujan dan yeay! Terselamatkan aku dengan jas hujan yang dapat menghangatkan tubuh. Sampai tidur pun jas hujan tetap aku pakai hahah.

Ketika hari sudah mulai malam, plan diawal aku ingin menikmati keindahan milky way dan menangkapnya dengan lensa kamera. Tapi, karena udara yang amat sangat dingin malam itu dan badan yang lelahnya tak terelakkan, aku pun memutuskan hanya melihat milky way sesaat dan kembali masuk tenda.

Saat di Papandayan, tempat camp yang biasanya dipakai adalah di Pondok Salada. Berhubung saat itu di sana sedang ada acara, kami pun memilih untuk mendirikan tenda di Ghoberhoet. Di Ghoberhoet bonusnya adalah, saat pagi tiba, aku bisa menyaksikan sunrise yang MasyaAllah menakjubkan. Kalau mendirikan tenda di Pondok Salada, aku tidak akan bisa menikmati keindahan sunrise di Gunung Papandayan. Di Pondok Salada juga terdapat babi hutan. Kalau di Ghoberhoet tidak ada babi hutan, hanya ada hewan anjing yang berkeliaran. Tenang, anjingnya nggak segalak anjing peliharaan yang kalau ada orang asing langsung menggonggong. Walaupun di sana anjingnya berkeliaran, tapi anjingnya nggak ganggu, paling cuma mintain makanan kalian doang ihih.

Hari Minggu, sekitar pukul 8 pagi, kami mulai bergegas melanjutkan perjalanan dan bersiap pulang. Setelah menikmati keindahan sunrise dan menghabiskan logistik, kami berjalan menuju hutan mati. Perjalanan menanjak aku jumpai kembali. Carrier yang aku bawa, hanya dapat bertahan kurang lebih 15 menit dan akhirnya Dian lagi yang menjadi korban kejamnya berat carrier si Windi. Thanks Dian (padahal tadinya ditulisan ini, aku mau balas dendam, membongkar aib Dian, tapi ternyata cuma kebaikannya doang yang aku inget huhu).

Sunrise Gn.Papandayan

Di hutan mati Papandayan kami banyak menghabiskan waktu dengan berfoto-foto. Irhas yang sudah pernah kesana, lebih banyak diam dan hanya memperhatikan sekitar. Mungkin aslinya dia sudah bosan menunggui kami yang nggak kelar-kelar ambil gambar, walaupun nantinya yang diupload di media sosial hanya beberapa hahah

Sudah ah tak ingin berlama-lama lagi, karena kami tak ingin telalu larut malam sampai di Jakarta. Sebelum dzuhur kami sudah sampai di bawah.

Aku baru merasakan, bahwa ternyata perjalanan turun gunung itu lebih berat dari mendaki. Butuh keseimbangan yang lebih. Dan Papandayan yang dibilang landai, serta cocok untuk pemula, plis jangan kamu anggap enteng untuk kalian yang belum pernah sama sekali melakukan pendakian. Karena, selandai-landainya Papandayan, tetap dibutuhkan fisik dan stamina yang oke.

Jalur pendakian Papandayan dipenuhi dengan batu dan pasir. Lebih aman saat melakukan pendakian, menggunakan sepatu. Tak harus sepatu gunung, sepatu running pun juga sudah oke. Tapi, kalau tetap memilih untuk memakai sandal gunung aja juga silakan.
Siapkan masker, kalau kamu nggak ingin terpapar debu dan sinar matahari saat dalam perjalanan mendaki maupun turun.


Hutan mati Gunung Papandayan
Untuk mencegah agar tidak terlalu gelap kulitnya saat turun gunung, jangan lupa untuk bawa sunblock spf 50. Selain dapat digunakan saat mendaki, sunblock spf 50 cocok untuk segala kegiatan outdoor lainnya. Tidak hanya wanita saja yang dapat memakai sunblock, pria juga boleh untuk tetap menjaga kesehatan kulit saat melakukan keiatan di luar ruangan.

Berikut rincian update budget tahun 2018 menuju Gunung Papandaya dari Jakarta:
  • Bis pergi dari Kp.Rambutan 65k dan bis pulang (primajasa) sampai lebak bulus 60k.
  • Angkot dari terminal Guntur ke Desa Cisurupan pp 40k
  • Losbak dari Desa Cisurupan ke Base Camp Papandayan pp 50k
  • Tiket masuk Papandayan 30k
  • Tiket ngecamp 35k 
  • Untuk sharecost logistik kemarin 15k perorang.
Itulah kira-kira perkiraan budget yang harus kamu siapkan jika ingin merasakan sensasi keindahan Gunung Papandayan. Harga sewaktu-waktu akan berubah. Entah, tahun 2022 harganya masih akan tetap sama atau justru malah sudah lebih murah.

Oiya ada satu quote dari peribahasa Norwegia, yang begini bunyinya
“Hanyalah Seseorang yang berkelana, yang menemukan jalan baru”.  
Yuk Berkelana!


Salam,

Anak Bungsu!

You Might Also Like

0 komentar

Facebook Page